Otomotif

Cerita dari Pemilik: “Kenapa Saya Akhirnya Pilih Low SUV Ini Ketimbang Rivalnya”

Namaku sebut saja Rendra, dan tahun lalu saya sempat galau berat memilih mobil bekas untuk keluarga kecil saya. Waktu itu saya mengincar salah satu Low SUV keluaran Honda yang harganya sedikit lebih mahal dari rival-rivalnya, tapi katanya lebih lengkap fiturnya. Berikut cerita saya, siapa tahu bisa jadi bahan pertimbangan buat kamu yang lagi galau serupa.

Awal Mula Saya Melirik Model Ini

Waktu itu saya sudah pegang tiga pilihan di kepala, semuanya sekelas Low SUV tujuh penumpang. Yang bikin saya akhirnya condong ke model Honda ini adalah satu hal: di kelasnya, cuma dia dan satu rival lain yang punya paket fitur bantuan pengemudi aktif semacam peringatan blind spot. Rival-rival lain seperti SUV konvensional yang sudah lama malang melintang belum punya fitur semacam itu. Buat saya yang sering bawa anak-anak, ini jadi nilai plus tersendiri.

Soal Harga, Ini yang Saya Temukan

Untuk generasi pertama keluaran 2016, saya sempat menemukan penawaran mulai dari kisaran Rp140 juta untuk tipe menengah dengan transmisi otomatis. Kalau dipikir-pikir, harga segitu untuk usia mobil yang sudah tujuh tahunan sebenarnya cukup masuk akal. Sementara untuk unit yang lebih muda, misalnya keluaran 2018-2019, harganya naik ke kisaran Rp168 juta hingga Rp190 jutaan tergantung kondisi dan kelengkapan dokumen.

Satu hal yang saya sadari belakangan: karena peminatnya di pasar bekas tidak sebanyak Low SUV lain, harga jual kembalinya justru bisa “terjun bebas” kalau tidak hati-hati. Jadi kalau kamu tipe yang suka gonta-ganti mobil, mungkin perlu pikir dua kali soal model ini.

Yang Bikin Saya Sreg Setelah Pakai

Mesin 1.5 liter dengan teknologi i-VTEC yang dipakai terasa cukup responsif untuk kebutuhan harian, bahkan saat kabin terisi penuh penumpang plus barang bawaan. Ground clearance-nya juga cukup tinggi, jadi saya nggak was-was lagi kalau harus melewati jalan yang agak rusak atau polisi tidur yang tinggi.

Ruang kabinnya juga lega untuk ukuran kendaraan sekelasnya, dengan kapasitas bagasi yang cukup untuk perjalanan liburan sekeluarga membawa banyak barang.

Tapi Ada Juga yang Bikin Saya Agak Kesal

Jujur saja, ada beberapa hal yang bikin saya harus menyesuaikan ekspektasi. Kualitas material plastik di interior dan peredaman kabinnya kurang maksimal — saat kecepatan menengah, suara dari roda dan bising dari luar masih cukup terdengar jelas. Akhirnya saya harus tambah peredam suara sendiri supaya lebih nyaman.

Selain itu, setir kemudinya di beberapa varian belum bisa diatur maju-mundur (teleskopik), padahal untuk harga yang ditawarkan, saya pribadi berharap fitur ini sudah jadi standar.

Tips dari Pengalaman Saya

Kalau kamu berminat dengan model serupa, saya sarankan cek dulu kondisi kaki-kakinya secara menyeluruh — bagian tie rod dan komponen stabilizer jadi titik yang perlu diperhatikan mengingat suspensinya sering bekerja ekstra karena ground clearance yang tinggi. Jangan lupa test drive langsung untuk merasakan kenyamanan suspensi dan memastikan performa AC serta mesinnya masih normal.

Periksa juga riwayat servisnya. Unit dengan catatan perawatan yang jelas biasanya lebih aman dipilih dibanding yang riwayatnya tidak jelas.

Kesimpulan dari Saya

Sampai sekarang saya masih puas dengan pilihan ini, terutama untuk kebutuhan keluarga yang sering bepergian jauh. Tapi kalau kamu lebih mengutamakan harga jual kembali yang stabil, mungkin perlu bandingkan dulu dengan beberapa rival sekelasnya sebelum benar-benar memutuskan.

Kalau kamu penasaran dan mau lihat-lihat pilihan sejenis, proses jual beli mobil bekas bisa jadi titik awal yang praktis buat membandingkan berbagai tahun dan kondisi unit.

Dan buat yang mungkin sedang berencana melepas kendaraan lama untuk beralih ke unit lain, mengecek dulu lewat jual mobil bekas juga bisa membantu menentukan langkah selanjutnya sebelum benar-benar bertransaksi.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *